Mana yang Harus Didahulukan Suami, Menafkahi Isteri atau Ibunya?




Assalamualaikum,

Ustad, saya ingin tanya mengenai kewajiban nafkah suami, apakah ia harus mendahulukan isterinya atau ibunya ketika memberi nafkah. Permasalahannya, saya menikah beberpa bulan, dan suami tidak pernah memberikan nafkah berupa wang kepada saya. Gaji Suami yang terhad, kerana memang sebahagian digunakan untuk membayar hutang. Namun suami saya masih membayar sewa rumah dari gajinya. Sedangkan untuk makan, seringkali masih dari gaji saya. Begitu juga dengan pakaian.

Masalahnya, selama ini (sejak sebelum menikah), rutin suami memberikan wang kepada ibunya (saya sudah menyetujuinya sebelum menikah). Namun situasi saat ini kami kekurangan, dan dia masih memberi kepada ibunya dan tidak kepada saya. Bagaimana hukumnya? Saya tidak ingin menjadi isteri dan menantu yg derhaka, kerana itu saya ingin menanyakan permasalahan ini kepada ustad

Terima kasih,



Jawapan:


Dijawab oleh: Ust. Ibrahim Bafadhol, M.Pd.I

Bismillah. Alhamdulillah washsholatu wassalamu ‘ala rosulillah wa’ala ali wasobbihi wamanitabbahuda amaba’d.
Manakah yang harus didahulukan oleh seorang anak laki-laki, memberikan nafkah kepada ibunya atau isterinya, jika si anak laki-laki ini tidak mampu menafkahi keduanya?

Perlu diketahui, bahwa para ulama telah bersepakat bulat atau ber-ijma sebagaimana telah dinukil oleh Ibnul Munzir, bahawa nafkah untuk kedua orang tua yang miskin dan tidak mencukupi maka nafkah kedua orang tua ini menjadi kewajiban anak-anaknya. Baik anak laki-laki mahupun perempuan.
Kemudian jika anak laki-laki ini telah menikah dan telah memiliki anak, maka dia punya dua kewajiban: kewajipan memberikan nafkah orang tuanya yang miskin yang tidak mampu dan memberikan nafkah isteri dan anak-anaknya sendiri.

Jika seorang anak laki-laki mampu melakukan dua kewajiban ini, maka inilah yang wajib atas dirinya. Tapi jika dia tidak mampu memberikan dua kewajiban tersebut, kerana gaji yang tidak mengcukupi misalnya, maka yang harus didahulukan adalah menafkahi isteri dan anak-anaknya.

Para ahli fiqih telah menegaskan hal ini, sebagaimana diutarakan oleh penyusun kitab Kasyful Kina’, dia berkata, seseorang yang tidak punya kelebihan dari nafkah untuk mencukupi semua yang wajib ditanggung oleh dirinya, maka yang pertama dia mulai adalah menafkahi dirinya sendiri.

Jika setelah itu ada kelebihan untuk orang lain, maka dia dahulukan isterinya. Karena nafkah untuk istri adalah kewajiban berdasarkan saling timbal balik atau al-mu’awadoh, yakni isteri memberikan layanan kepada suaminya, oleh karena itu layanan dari istri ini wajib dibalas dengan nafkah. Dan nafkah yang wajib karena al-mu’awadoh lebih didahulukan dari nafkah yang diberikan kerana menolong atau al-muwasah.
Kemudian mereka berdalil dengan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Jabir rodhiallohu’anhu dan hadits ini dikeluarkan oleh imam Muslim dalam shohihnya, Rosululloh shalallohu ‘alaihi wasalam bersabda:
“Jika Allah ta’ala memberikan kepada salah seorang di antara kalian kebaikan – nikmat atau rezeki, maka hendaknya dia memulai dengan dirinya dahulu dan keluarganya” (HR. Muslim)

“Nafkah yang paling besar pahalanya adalah nafkah yang dikeluarkan oleh seseorang kepada keluarganya” (HR. Muslim)

Jadi seperti inilah syariat mendahulukan perkaranya. Bahawa orang tua atau ibu yang miskin, tidak memiliki gaji sehingga tidak mampu mencukupkan makanan sehari-hari, tidak mungkin diabaikan Nafkah atau makanan asas orang tua adalah tanggungan dari anak-anaknya. Setelah anak lelaki mencukupkan kewajiban terhadap isteri dan anak-anaknya sendiri.

Tetapi jika orang tua tidak miskin, untuk makanan dan keperluan sudah cukup, misalnya orang tuanya memiliki wang pencen maka nafkahnya tidak wajib bagi anak lelakinya.

Namun jika anak lelaki hendak memberikan sebagian wangnya kepada ibunya, maka hendaknya isteri tidak melaranya. Kerana hal tersebut merupakan bentuk birur walidayn atau berbakti kepada orang tuanya. Dengan catatan, setelah anak lelaki mencukupi nafkah untuk keluarganya.
Wallohu a’lam

Wasallahu ‘ala nabiyina muhammad wa’ala washobbihi wassalam

0 comment... add one now