Benarkah Orang Tua Nabi Muhammad Masuk Neraka?

loading...

Benarkah Orang Tua Nabi Muhammad Masuk Neraka? 





Seseorang ustadz berfatwa kalau “orang tua nabi penunggu neraka”. fatwa ini di ungkapkan pada sesuatu pengajian yang diunggah ke youtube yang diterbitkan pada http: //www. youtube. com/watch? v=4fizce3tmx8

dalam video tanya - jawab tersebut, si ustad kembali kali mengatakan “ulama hadits”. sementara itu ulama yang berhak melaksanakan ijtihad dan juga istinbat (menetapkan hukum masalah) ataupun ulama yang berhak buat menggali hukum dari angkatan laut (AL) qur’an dan juga as sunnah (hadits) merupakan para fuqaha (pakar fiqih) bukan ulama hadits (pakar hadits).

pada menit ke 37: 20 terdapat persoalan “apakah bapak dan juga bunda nabi shallallahu alaihi wasallam tercantum orang kafir ? ”

si uustadzmenjawab “ya, bapak dan juga bunda nabi shallallahu alaihi wasallam wafat dalam kondisi menyembah berhala” khalid berdalil dengan hadits shahih, “sesungguhnya ayahku dan juga ayahmu di neraka (hr muslim).

haditsnya shahih, tetapi yang jadi persoalan, apakah uraian dia tentu shahih ataupun tentu benar?

ibnu asakir meriwayatkan kalau pada masa pemerintahan umar bin abdul aziz, seseorang menterinya mengangkut seseorang dari suatu keluarga non - muslim bagaikan kepala wilayah. sementara itu, wilayah itu ditempati kebanyakan muslim. umar bin abdul aziz memanggil pejabat tersebut dan juga memohon pertanggung jawabannya. bagi sang pejabat, tidak terdapat kelainannya antara muslim dan juga nonmuslim. karna, orang tua nabi seorang diri merupakan nonmuslim. dengan memakai bahasa yang lebih keras, sang pejabat berkata bapak nabi merupakan orang musyrik.

sama serupa bapak dari pejabat lokal yang baru diangkatnya. umar bin abdul aziz marah dan juga membagikan teguran keras. apa saya butuh memotong kepalamu? apa saya butuh menggorok lehermu? umar bin abdul aziz memandang kalau kelakukan pejabat tersebut amat menghina nabi saw. dan juga keluarganya. peristiwa itu setelah itu tersebar ke warga. mereka mulai membicarakan nasib orang tua nabi saw. apakah mereka muslim? apakah mereka tercantum pakar surga? apakah mereka beriman serupa mereka? setelah itu apakahkakek nabi pula muslim? gimana leluhur nabi yang lain? gimana bunda, nenek, dan juga moyang nabi? apakah mereka seluruh muslim? warga awam yang tidak mengenali duduk perkara ikut nimbrung dalam dialog ini. dengan bermodal ide cethek, mereka ikut mempromosikan isu tersebut. dalam sebagian permasalahan, seseorang muslim terlebih lagi berani mengolokolok orang tua nabi bagaikan penunggu neraka.

di tingkat warga awam, perdebatan itu berbeda jadi plesetan dan juga terlebih lagi olok - olok. kalau mereka lebih mulia dibandingkan orang tua nabi. terlebih lagi, mereka terasa lebih mulia karna dilahirkan dari orang tua yang muslim. kita tidak dapat membayangkan gimana perasaan nabi mendengar umatnya mengolok - olok keluarganya. untuk kita yang menyayangi dia secara tulus, tentu tidak hendak rela mendengar keluarga nabi jadi olahan olok - olok. kemudian gimana sesungguhnya status orang tua nabi? gimana pula dengan leluhurnya? novel ini berpihak kepada komentar yang melaporkan kalau orang tua nabi merupakan orang - orang yang selamat. dengan tegas, penulis melaporkan kalau orang tua nabi merupakan muslim

#berikut pembahasan kami dalam menanggapi dan juga mengkritisi fatwa khalid basalamah secara perinci dan juga merata. bismismillahirrohmanirrohim…

kesatu nabi muhammad s. a. w menggambarkan nabi paripurna yang menyempurnakan agama islam. nabi muhammad dilahirkan dari rahim seseorang perempuan suci yang bernama aminah binti wahbin dan juga bapaknya abdulloh bin abdul mutholib.

kedua orang tua nabi hidup pada waktu saat sebelum islam. ialah sesuatu fase kekosangan dari dakwah nabi. fase tersebut diucap fatroh, dan juga orang yang hidup pada waktu itu diucap pakar fatrah ialah, orang - orang yang hidup diantara masa 2 rasul, dan juga rasul yang kesatu tidak diutus buat berdakwah kepada mereka, sebaliknya mereka tidak menciptakan masanya rasul yang kedua.

ulama pakar fiqh berkata kalau yang diartikan dalam perihal ini merupakan orang arab yang hidup sehabis masa hidupnya nabi isa as dan juga belum berjumpa masa nabi muhammad saw.
imam suyuthi menarangkan tentang pakar fatroh: “ketika dalil yang tentu dan juga tidak terbantahkan lagi telah menenjukkan bahwasannya tiada penyiksaan (di akhirat) kecuali sehabis datangnya hujjah ataupun agama (di dunia) , hingga kami dapat mengenali kalau mereka pakar fatrah tidak hendak disiksa. ”
para ulama maturidiyah mengatakan: “orang yang mati saat sebelum melewati waktu yang sekiranya dapat berangan - angan tentang agama, sebaliknya ia belum hingga iman ataupun kufur, hingga tiada siksaan menurutnya (selamat). berubah bila ia telah mempercayai kekufuran ataupun wafat sehabis melewati waktu sekira dapat berangan - angan dan juga ia tidak mempercayai apa - apa, hingga ia tidak selamat. ”

hingga dari itu pakar fatrah terdapat 3 kriteria: :

1. orang yang tidak bertauhid pada allah dihatinya. dan juga sebagian tidak menjajaki syariat nabi - nabi, serupa qis bin saida dan juga zaid bin amr. dan juga sebagiannya lagi terdapat yang hingga menjajaki syari’at yang benar dan juga berlaku, serupa tubba’.

2. orang yang mengubah, merubah, menyekutukan, menghasilkan syari’at seorang diri, menghalalkan yang haram dan juga mengharamkan yang halal. contoh serupa amr bin lahay. ialah, orang yang memprakarsai penyenbahan berhala. bukan cuma itu, ia pula membikin hukum - hukum syari’at seorang diri, dan juga mendakwahkan pada teman , dan juga orang orang menyembah jin, dan juga malaikat.

3. orang yang tidak menyekekutukan dan juga tidak pula bertauhid dan tidak menjajaki syari’at nabi siapapun, tidak membikin hukum syari’at, dan juga senantiasa dalam kondisi serupa itu. lazimnya mereka yang hidup di hutan pedalaman
apabila terdapat hadits - hadits yang berkata tentang siksaan kepada seorang dari mereka para pakar fatrah, hingga dimasukkan ke penggalan yang kedua. ada juga penggalan yang ketiga, merupakan para pakar fatrah yang selamat dan juga tidak disiksa.
hukum kedua orang tua rasulullah saw.

mengatakan imam ibnu hajar dalam kitab syarh hamaziah karya imam bushiri:

لم تزل في الضمائر الكون تختا * ر لك الأمهات والأباء

“senantiasa dalam rahasia alam ini*
engkau (nabi) senantiasa dipilihkan dari bunda bapak pilihan”
alloh berfirman allah ta’ala:

وتقلُّبَك فى السَّاجدين

“dan (memandang) pergantian gerakan tubuhmu di antara orang - orang yang sujud. ” (qs asy - syuara’ [26]: 219).
bagi salah satu pengertian ayat tersebut, kalau yang diartikan dari ayat tersebut merupakan pindahnya nur muhammad dari orang yang sujud kepada orang yang sujud.. ayat ini menggambarkan legalisasi kalau garis generasi nabi muhammad s. a. w diwariskan dan juga diturunkan dengan jalan suci dari masing masing pribadi orang yang diseleksi alloh s. w. t dari nabi adam. dan juga sabda nabi muhammad saw:

(لمْ أَزَلْ أُنْقَلُ مِن الأَصْلَابِ الطّاهراتِ إلى الأَرحام الزَّكِيَّات)

“tiada henti - hentinya saya dipindah dari punggung - punggung yang suci ke rahim - rahim yang bersih. ”
hadits ini menggambarkan pengejawantahan bahwasannya tidak terdapat sama sekali dari sekian banyak utusan nabi yang menyekutukan allah swt. dan juga garis keturunannya menggambarkan garis generasi yang terpilih. dan juga tidak terdapat dari datuk nabi muhammad kecuali jadi pemimpin di masanya serupa kata suatu syair mengatakan:

فألئك السادة لم ترى مثلهم * عين على متتابع الاحقاب
زهر الوجوه كريمة احسابهم * يعطون سائلهم بغسر حساب

tetapi masih banyak orang yang salah faham dan juga berkata kalau kedua orang tua nabi muhammad s. a. w pakar neraka. dengan dalih kalau mereka tidak mengucapkan 2 kalimat syahadat sepanjang hidupnya.

al - imam abu hanifah, dia mengutarakan kalau seluruh para nabi itu maksum (terpelihara) dari hakikat kekufuran begitu pula segenap orang tuanya. dari mari dapat disimpulkan, kalau kelahiran para nabi wajib dari kedua orang tua yang muslim ataupun matinya orang tua yang bukan muslim saat sebelum kelahiran mereka. hendak namun yang kedua ini, sangat sangat jarang ditemui. terlebih lagi tidak bisa jadi dan juga tidak terjalin digolongan orang tua wanita (karna dia yang melahirkan).

diceritakan kalau nabiyulloh adam dan juga sayyidatuna hawa melahirkan 40 anak dalam 20 isi (tiap lahir kembar) kecuali nabi “tsis” karna allah mau menampilkan karomah untuk nabi muhammad s. a. w dan juga setelah itu sesaat saat sebelum meninggal berpesan kepada anaknya supaya tidak meletakkan nur yang diwariskan ini kepada perempuan sembarangan kecuali kepada yang suci.

sesungguhnya bahwa kita kroscek nyatanya hadits - hadits diperuntukan tendensi sebagian orang yang apatis terhadap kedua orang tua rasulullah, seluruhnya kurang relevan dan juga kontradiktif. haditsnya - pun derajatnya ‘ahad. oleh karenanya, hadits tersebut tidak masuk dalam perihal akidah ataupun yang berhubungan dengan keyakinan. karena dalam perihal akidah ataupun keyakinan yg digunakan merupakan hadits mutawatir.

· bila kamu bertanya : “bukankah azar bapak nabi ibrohim pula masuk neraka? ? ?
jawabannya : ada juga hadits tentang “azar”yang benar kalau ia tidaklah ayahanda dari nabi ibrahim a. s. namun ia merupakan paman dia. sebaliknya ayahanda dia bernama faruh. sebaliknya orang arab bila memanggil paman dengan istilah bapak. karena mereka menyangka paman mereka serupa bapak seorang diri. terlebih lagi al - qur’an seorang diri mengatakan perihal ini:

وَإِلَهَ ءَابَائِكَ إِبْرَاهِيْمَ وَإِسْمَاعِيْلَ

“dan tuhan nenek moyangmu ialah ibrahim, ismail. ” (qs al - baqarah [1]: 133) sementara itu yang diartikan merupakan paman ayyub as.

· bila kamu keluhan dengan bertanya : “lalu apa jawaban kamu atas pengakuan nabi kalau bapaknya di neraka serupa yang disebutkan di hadits muslim? ? ?

jawabannya : tentang hadits yang diriwayatkan muslim: seseorang pria mengatakan, dimanakah ayahku wahai rasulullah? dia menanggapi: “di neraka. ” kemudian sehabis ia berpaling, rasulullah memanggil berulang seraya mengatakan: “sesungguhnya, ayahku dan juga ayahmu berposisi di neraka. ”

terdapat 2 opsi buat menjawabnya yang kesatu kita harus melaksanakan penakwilan. amat jelasnya pentakwilan bagi kami, ialah rasulullah saw. bermaksud dengan perkataan ‘ayah’ merupakan paman dia setimpal adat arab yang memanggil paman dengan panggilan bapak. inilah yang dinamakan majaz. ada juga ciri terdapatnya majaz dalam perihal ini, ialah ayat yang hendak tiba penyebutannya, yang menampilkan kebalikan dari redaksi ayat bagi yg diakui madzhab ahlus sunnah pada komentar yang amat shahih (benar). sebaliknya paman dia nabi menanggung dan juga mengasuh nabi sehabis kakeknya abdul muthallib.

yang kedua iktikad dari jawaban dia nabi dalam hadits tersebut ialah demi

mengasyikkan hati pemuda tersebut supaya tidak murtad. karna yang didengar kesatu kali oleh ia merupakan, bapaknya berposisi di neraka. jawaban ini diperkuat dengan argument, kalau dia nabi mengatakan yang kedua kalinya, sehabis ia berpaling buat berangkat. ataupun, jawaban dia tersebut saat sebelum turunnya ayat kepada dia:

وَمَاكُنَّا مُعَذِّبِيْنَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُوْلًا

“tetapi kami tidak hendak menyiksa saat sebelum kami mengutus seseorang rasul. ” (qs al - isra’ [17]: 15). serupa peristiwa kala dia ditanya tentang kanak - kanak orang musyrik, dia menanggapi kalau mereka berbarengan ayah - ayahnya (di neraka). kemudian kala ditanya berulang permasalahan itu, dia menanggapi mereka di surga
diriwayatkan ibnu mardawaih dikala memaknai ayat

لقد جاءكم رسول من انفسكم بفتح الفاء انا انفسكم نسبا وصهرا وحسبا ليس في ابائي نت لدن ادم سفاح كلها نكاح

dia berkata kalau nabi mengatakan saya amat mulia diantara kamu nasab, generasi, dan juga keluarga tidak terdapat diantara ayahku yang terjerumus perzinahan seluruhnya menikah.

· bahwa kamu keluhan dengan mengatakan : “bukankah imam abu hanifah berkata kalau orang tua nabi di neraka? ?
jawabannya : kita butuh kritis disini karena tidak semudah itu sekaliber imam abu hanifah mengkafirkan orang mulia. sebagian naskah nyatanya berkata begini:

ووالدا رسول الله صلى الله عليه وسلم ماتا على الكفر, وأبو طالب مات كافرا

maksudnya “dan kedua orang tua rasulullah saw. wafat dalam kekufuran sebaliknya paman dia wafat dalam kondisi kafir. ”
dan juga ini jelas tidak serasi. karna, bila dia abu hanifah bermaksud mengatakan begitu, hingga ia hendak mengatakan seluruh dalam satu lafazh. yang benar merupakan kalau terdapat kebohongan dari oknum yang tidak bertanggung jawab yang merubah dari naskah aslinya. mereka menyangka, kalau huruf mim merupakan mim zaidah (ekstra). mereka ceroboh dan juga membuang mim itu. karna yang benar naskahnya merupakan:

ووالدا رسول الله ما ماتا على الكفر وأبو طالب عمه مات كافرا

maksudnya “dan kedua orang tua rasulullah saw. tidak wafat dalam kekufuran sebaliknya paman dia wafat dalam kondisi kafir. ”
dalam perihal ini imam ibnu hajar menuturkan dalam kaitabnya angkatan laut (AL) fatawa, mengutib dari kitab saddaduddin: “apa yang dikutib dari abu hanifah, dia mengatakan dalam kitabnya angkatan laut (AL) fiqhul akbar, bahwasannya kedua orang tua nabi wafat dalam kondisi kafir itu tidak benar. karna naskah yang mampu dipercaya dalam kitab tersebut, tidak disebutkan perihal serupa itu. yang benar naskah tersebut, merupakan karangan abu hanifah muhammad bin yusuf al - bukhari bukan abu hanifah an - nu’man bin tsabit al - kufi. kami sebutkan perihal itu supaya biar, orang yang berfikir tentang kutibannya senantiasa berfikir dan juga berwaspada dalam menuliskan. wallahu a’lam.

· bila kamu bertanya; “bukankah yang berkata selamatnya orang tua nabi cuma syiah rofidloh serupa perkataan abi hayyan? ? ”
jawabannya : ibnu hajar berkata kalau banyak kerancauan pada komentar abi hayyan yang berkata; “sesungguhnya cuma pemeluk syiah rafidlah yang berkata kalau kedua orang tua nabi muhammad saw tercantum orang - orang mukmin yang tidak disiksa. dengan berargumen memakai firman allah ta’ala: “dan (memandang) pergantian gerakan tubuhmu di antara orang - orang yang sujud. ” (qs asy - syuara’ [26]: 219). ”

kita menolak komentar ini dengan 2 sebab. kesatu karena abi hayyan menggambarkan ahli gramatika nahwu shorrof aja. sedangkan buat permasalahan akidah dan juga usul, ia tidak mempunyai kapasitas di dalamnya.

kedua disini terjalin kontradiksi dengan realita yang terdapat karna ulama madzhab asy’ari, pula berkata kalau mereka para pakar fatrah tercantum orang mukmin. penisbatan yang dicoba abi hayyan cuma kepada syiah rafidlah sebaliknya disitu sebegitu banyaknya para imam ahlus sunnah yang berkata serupa itu menggambarkan perilaku yang amat mengentengkan dan juga menyepelekan. ”
sudah banyak cerita mukjizat nabi yang dikasih kepada dia serupa mengembalikan matahari dikala dia hendak tertinggal sholat asar, begitu pula membelah bulan yang satu penggalan di atas jabal abi qubais dan juga yang setengahnya di jabal qoiqo’an. seluruh suatu yang dikehandaki nabi hendak dituruti oleh alloh s. w. t tercantum pula permohonan buat menghidupkan bapak ibunya.

imam suyuti memiliki 10 karya kitab yang menekankan kewajiban melindungi etika kepada rasulullah dan juga untuk orang yang menyakiti dia, hingga dia telah menyakiti allah ta’ala. dan juga satu kitab spesial membahasa secara eksplisit menimpa kedua orang tua nabi diberi nama abaway rosul.

sesuatu kala seseorang qodli bernama alfaqih almuhaddits ibnul araby almaliki sempat ditanya tentang seseorang pria yang mengatakan, kalau kedua orang tua rasulullah saw. telah masuk neraka. dia menanggapi: ia telah dilaknat, karna allah swt. telah berfirman:

إِنَّ الَّذِيْنَ يُؤْذُوْنَ اللهَ وَرَسُوْلَهُ لَعَنَهُمُ اللهُ فِى الدُّنْيَا وَالأَخِرَة

“sesungguhnya (terhadap) orang - orang yang menyakiti allah dan juga rasul - nya, allah hendak melaknat di dunia dan juga di akhirat, dan juga sediakan adzab yang menghinakan untuk mereka. ” (qs al - ahzab [33]: 57).

dan juga tiada yang lebih menyayat hati dari pada dari perkataan yang berkata kalau kedua orang tua rasulullah saw. masuk neraka. as - suhaili telah meriwayatkan hadits ibnu mas’ud ra. kala itu, dia (ibnu mas’ud) bertanya kepada rasulullah saw. tentang kedua orang tuanya. dia menanggapi: “aku tetap memohon kepada tuhanku, ia telah mengabulkan permintaanku. akulah yang nantinya hendak membantu mereka (kedua orang tuaku) mengarah tempat yang terpuji (surga).

” hadits ini membagikan isyarat, kalau rasulullah saw. hendak berikan syafa’at kepada kedua orang tuanya di tempat tersebut, supaya biar kedua orang tuanya memperoleh taufik berbentuk keta’atan kala terdapatnya cobaan besar yang terjalin di hari kiamat nanti. serupa yang diterangkan dalam sebagian hadits pula.

imam qurtubi dalam tafsirnya mengatakan: “secara ide dan juga syara’, tidak terdapat yang mustahil dan juga ketidak mungkinan tentang menghidupkan kedua orang tua rasulullah kemudian mewafatkan berulang. karna perihal serupa itu, pula diterangkan dalam al - qur’an al - karim tentang menghidupkan orang yang dibunuh dari bani israil, sampai ia berikan laporan tentang siapa pembunuhnya.

angkatan laut (AL) habib umar bin sumaith mengatakan dalam kitab hidayatul ikhwan: banyak orang berkomentar dari golongan pakar hadits kalau nabi menghidupkan dan juga mengislamkan orang tuanya dengan dalil hadits aisyah ialah dari sayidah aisyah ra. : “rasulullah saw. turun dari bukit al - hajun (bukit di makkah, berbentuk pemakaman) dalam kondisi amat duka cita dan juga bersedih. kemudian, mendaki berulang dengan kehendak allah azza wa jalla. sehabis itu, keluar dengan kondisi amat bahagia dan juga gembira. setelah itu ia mengatakan: “aku telah memohon kepada tuhanku –azza wa jalla - , kemudian, ia menghidupkan ibundaku untukku. sehabis ibundaku beriman kepadaku, ia mengembalikan lagi. ”

meski hadits ini dikatakan lemah bagi sebagian tetapi bagi pakar haqiqat tidak. ulama mengatakan dalam syairnya:

ايقنت ان ابى النبي وامه * احياهما الرب الكريم الباري
حتى له شهدا بصدق رسالة حقا وتلك كرامة المختار
هذا الحديث ومن يقول بضعفه * فهو الضعيف عن الحقيقة عاري


* bila kamu keluhan dengan mengatakan: “kalau kamu katakana ahlil fatroh bukan pakar neraka lalu buat apa orang tua nabi dihidupkan? ?
jawabannya: faidahnya supaya orang tua nabi menemukan keutamaan atas apa yang tidak didapatkan pakar fatroh karna endingnya orang tua nabi wajib berkumpul dengan muslimin supaya selamat dari siksa. begitu pula tingkatan derajat orang yang meyakini alloh dan juga islam seutuhnya lebih mulia daripada yang tidak pernah meyakini.

angkatan laut (AL) imam nashiruddin addimsyiqi berkata dalam gubahan sya’ir nya:
karna cinta allah kepada nabi dengan menaikkan keutamaan - nya
atas keutamaan (yang sudah dikasih) dan juga dialah maha menyantuni
kemudian menghidupkan ibundanya begitu pula ayahandanya
demi beriman kepadanya dari keutamaan dan juga kebaikan - nya
terimalah laporan itu, karna allah maha kuasa atas segalanya
walaupun hadits yang berkata itu dlo’if adanya
dan juga hadits yang diriwayatkan at - tirmidzi derajat hasan:

(إنّ الله خلَق الخَلْقَ فجعلني من خيرِ فِرَقِهِمْ ثمّ تَخَيَّر القبائلَ فجعلني من خير قبيلةٍ، ثمّ تخيّر البيوتَ وجعلني في خير بيوتهم، فأنا خيرُهم نفسًا –أي روحا وذاتا - وخيرهم بيتا –أي أصلا - )

“sungguh, allah telah menghasilkan makhluk kemudian menjadikanku dari sebaik - baiknya kalangan dari mereka. setelah itu memilah dari sebagian kabilah dan juga menjadikanku dari sebaik - baiknya kabilah. setelah itu memilah dari sebagian rumah dan juga menjadikanku dari sebaik - baiknya rumah. akulah sebaik - baiknya diri (ruh dan juga dzat) dari mereka dan juga sebaik - baiknya rumah (garis generasi). ”

· bila kamu berulang keluhan dengan mengatakan: “mengapa kamu bersikukuh kalau kedua orang tua nabi tidak diucap kafir? ? ?
jawabannya : karna, orang kafir tidak berhak dikatakan ‘orang pilihan’, ‘orang mulia, ‘orang suci’. terlebih lagi alquran menyebutnya najis. serupa dalam ayat:
“sesungguhnya orang - orang musyrik terhukumi najis. ”
sebaliknya doktrin hadist secara eksplisit menarangkan kalau seluruh orang tua rasulullah merupakan terpilih, mulia, suci. dan juga pula, dan juga pula allah swt. berfirman: “dan (memandang) pergantian gerakan tubuhmu di antara orang - orang yang sujud. ” (qs asy - syuara’ [26]: 219).

· bila kamu keluhan dengan bertanya; “bukankah imam nawawi mengatakan kalau pakar fatroh menempuh rutinitas setimpal adat arab yang yakin berhala masuk neraka? ? ?
jawabannya : “mengenai perkataan imam nawawi dalam mengomentari hadits muslim: “orang yang wafat dalam masa fatroh dengan menempuh rutinitas setimpal adat arab ialah menyembah berhala, ia hendak masuk neraka yang diartikan merupakan karna mereka menyembah berhala sebaliknya sebelumnya sudah terdapat dakwah ismail dan juga nabi ibrohim. dan juga mengenali kalau itu (ajaran ibrohim) ajaran yang benar. dan juga dapat aja perkataan imam nawawi tersebut ditakwil (tafsir) dengan mengantarkan perkataan itu untuk orang - orang yang menyembah berhala yang sudah diriwayatkan dalam hadits - hadits kalau mereka hendak masuk neraka.

berhati hatilah dalam mengatakan ketiadaan kedua orang tua rasulullah saw. tentusaja itu hendak menyakiti dia. karna menyakiti dia, dampaknya hendak parah dengan terdapatnya hadits yang diriwayatkan ath - thabari: “janganlah kamu seluruh menyakiti orang - orang hidup dengan memaki orang - orang yang sudah wafat. ”.

orang tua nabi bukan orang sembarangan, bapaknya abdulloh bin abdul mutholib lelaki tampan yang jauh dari pergaulan jahiliyah,. dia pula dikala balita tidak jadi disembelih dan juga ditukar dengan fidyah 100 ekor unta. perihal ini senada dengan syair pujian atas ayahanda nabi yang dilantunkan ibundanya menjelang meninggal dan juga pengakuan ibundanya atas kenabiannya. sembari menangis aminah mengatakan:

بارك الله فيك من غلام * يابن الذي من حومة الحمام
نجا بعون الملك المنعام * فودي غدات الضرب بالسهام
بمائة من ابل سوام * ان صح ما ابصرت في المنام
فأنت مبعوث الى الانام * من عند ذي الجلال والاكرام
تبعث في الحل وفي الحرام * تبعث بالتحقيق والاسلام
دين ابيك البر ابراهاما * فالله انهاك عن الاصنام

sedangkan ibundanya seorang diri menggambarkan perempuan menawan, suci yang jauh dari pergaulan jahiliyah. terlebih lagi dikala wafatnya segenap jin menangis dan juga melantunkan syair:

تبكي الفتات البرة الامينة * ذات الجمال العفة الرزينة
زوجة عبد الله والفرينة * أم نبي الله ذي السكينة
وصاحب المنبر في الندينة * صارت لدى حفرتها رهينة

akhirnya kalau ulama ahlussunnah wal jamaah bersepakat kalau orang tua nabi tercantum pakar surga atas 2 mungkin ialah keimanannya sehabis di bangkitkan ataupun karna mereka berposisi pada masa fatroh. sedangkan yang bersikukuh berkata kalau orang tua nabi kafir merupakan muktazilah dan juga pengikutnya.

kita wajib mengindari supaya tidak mengingkari peristiwa ini. karena bila kita mengingkari hingga kita berlawanan dengan al - qur’an dan juga ijma’, tidak hanya itu peristiwa bangkitnya orang tua nabi ini amat bisa jadi terjalin secara ide dan juga syara’ atas dasar kemulyaan dan juga kehususan yang tidak tertolak oleh al - qur’an dan juga ijma’. ada juga perkataan yang berkata kalau tidak bermanfaat iman sehabis meninggal dikecualikan untuk yang menemukan kehususan dan juga kemulyaan..
Loading...
loading...

0 Response to "Benarkah Orang Tua Nabi Muhammad Masuk Neraka? "

Post a Comment

facebook KLIK PANGKAH 2 KALI UNTUK TUTUP Button Close